Hari
sumpah pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober merupakan salah satu
momen bersejarah Indonesia. Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam
sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar Sumpah Pemuda dianggap sebagai
kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.
Tahun
ini tepat 90 tahun sejak diadakannya Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan
dua hari, 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Pemuda merupakan garda
terdepan dalam proses perjuangan, pembaruan dan pembangunan bangsa. Segala
potensi yang ada pada pemuda menjadi penentu kualitas bangsa di masa depan. Pemerintah
Indonesia berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang ada melalui penyadaran,
pemberdayaan, pengembangan kepemudaan di segala bidang, sebagai bagian dari
pembangunan nasional.
Pemuda dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2009 adalah
warga negara Indonesia berusia 16 sampai 30 tahun. Sejalan dengan konsep
tersebut, millennials atau kadang juga disebut dengan generasi Y adalah
sekelompok orang yang lahir setelah Generasi X, yaitu orang yang lahir awal 1980-an dan pertengahan tahun 1990-an
hingga awal 2000-an.
Menurut hasil data Badan Pusat Statistik (BPS)
melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Tahun 2017, Indonesia adalah
rumah bagi 63,36 juta jiwa pemuda, jumlah tersebut merupakan seperempat dari
total penduduk Indonesia. Dari hasil survei tersebut dapat dilihat juga
mengenai kualitas pemuda terutama capaian pendidikan dan kesehatannya.


Melihat data BPS tersebut dapat dikatakan bahwa Pemuda
Indonesia sekarang ini memiliki kualitas yang cukup baik, baik dari segi
pendidikan maupun kesehatan. Para pemuda ini, atau yang dikatakan generasi
millenials, memiliki karakteristik
yang berbeda-beda berdasarkan wilayah dan kondisi sosial-ekonomi. Namun,
generasi ini umumnya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan
komunikasi, media, dan teknologi digital.
Berbicara mengenai teknologi digital,
seiring dengan era milenial yang
semuanya serba canggih, perkembangan ilmu dan teknologi terutama teknologi
informasi turut bertambah cepat. Teknologi informasi melesat jauh melebihi
bidang lainnya. Faktor penentunya antara lain globalisasi informasi, yaitu
penyebaran akses dan produksi informasi ke seluruh dunia. Informasi sekarang
dapat diakses oleh siapa saja dan di mana saja. Saat ini, hampir semua lapisan
masyarakat mulai dari orang tua, anak muda, hingga anak SD sudah tidak asing
lagi dengan keberadaan internet. Keberadaan internet sudah menjadi bagian tak
terpisahkan dalam kehidupan masyarakat bahkan cenderung menjadi gaya hidup bagi
sebagian orang. Hal tersebut turut menjadi salah satu indikator yang dapat
digunakan untuk melihat simbiosis antara pemuda dan teknologi informasi berupa
internet.
Hasil SUSENAS Tahun 2017 menyebutkan bahwa lebih dari separuh pemuda mengakses internet dalam tiga bulan terakhir. Tingkat penetrasi internet pemuda tertinggi ada pada kelompok umur 16-18 tahun, yaitu sebesar 72,86 persen, disusul kelompok umur 19-24 tahun sebesar 67,63 persen, dan kelompok umur 25-30 tahun sebesar 54,17 persen. Telepon seluler menjadi primadona pemuda untuk mengakses internet dan sebesar 83,13 persen pemuda mengakses internet dengan tujuan membuka sosial media.
Hasil SUSENAS Tahun 2017 menyebutkan bahwa lebih dari separuh pemuda mengakses internet dalam tiga bulan terakhir. Tingkat penetrasi internet pemuda tertinggi ada pada kelompok umur 16-18 tahun, yaitu sebesar 72,86 persen, disusul kelompok umur 19-24 tahun sebesar 67,63 persen, dan kelompok umur 25-30 tahun sebesar 54,17 persen. Telepon seluler menjadi primadona pemuda untuk mengakses internet dan sebesar 83,13 persen pemuda mengakses internet dengan tujuan membuka sosial media.
Persentase yang cukup besar terlihat pada akses
sosial media. Media sosial bagi para millenials bisa menjadi pedang bermata
dua, tergantung bagaimana mereka menggunakannya. Dengan kemudahan dan kecepatan
informasi melalui sosial media, perlu untuk digunakan secara bijak, hindari
penyebaran informasi tanpa fakta. Kedekatan
millenials dengan dunia maya, serta pengetahuan yang tinggi dalam menggunakan
platform dan perangkat mobile, ternyata melahirkan titik lemah bagi para
generasi ini. Titik lemah tersebut berdampak buruk terhadap keamanan generasi
millennials di dunia maya.
Kemajuan atau kehancuran bangsa dan negara bergantung pada generasi millenials sebagai agen perubahan (agent of change). Melalui momen sumpah pemuda ini didukung dengan kualitas para generasi millenials dari segi pendidikan maupun kesehatan dan pemahaman akan teknologi yang baik diharapkan bangsa dan negara Indonesia dapat menuju ke arah yang lebih baik. Sehingga kedepannya Indoneisa memiliki sumber daya manusia yang kecerdasannya dapat unggul dibanding negara lain, Indonesia menjadi pusat pendidikan, teknologi, dan peradaban dunia, Indonesia menjadi negara yang maju, Indonesia menjadi negara yang mandiri yang paling berpengaruh di Asia Tenggara, masyarakat Indonesia juga menjunjung tinggi pluralisme, berbudaya, religius, menjunjung tinggi nilai-nilai etika.
Kemajuan atau kehancuran bangsa dan negara bergantung pada generasi millenials sebagai agen perubahan (agent of change). Melalui momen sumpah pemuda ini didukung dengan kualitas para generasi millenials dari segi pendidikan maupun kesehatan dan pemahaman akan teknologi yang baik diharapkan bangsa dan negara Indonesia dapat menuju ke arah yang lebih baik. Sehingga kedepannya Indoneisa memiliki sumber daya manusia yang kecerdasannya dapat unggul dibanding negara lain, Indonesia menjadi pusat pendidikan, teknologi, dan peradaban dunia, Indonesia menjadi negara yang maju, Indonesia menjadi negara yang mandiri yang paling berpengaruh di Asia Tenggara, masyarakat Indonesia juga menjunjung tinggi pluralisme, berbudaya, religius, menjunjung tinggi nilai-nilai etika.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
you can give your comment here :)