Pages

Jumat, 02 November 2018

Potret Pemuda Indonesia sebagai Generasi Millenials

Hari sumpah pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober merupakan salah satu momen bersejarah Indonesia. Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar Sumpah Pemuda dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.

Tahun ini tepat 90 tahun sejak diadakannya Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan dua hari, 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Pemuda merupakan garda terdepan dalam proses perjuangan, pembaruan dan pembangunan bangsa. Segala potensi yang ada pada pemuda menjadi penentu kualitas bangsa di masa depan. Pemerintah Indonesia berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang ada melalui penyadaran, pemberdayaan, pengembangan kepemudaan di segala bidang, sebagai bagian dari pembangunan nasional.

Pemuda dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2009 adalah warga negara Indonesia berusia 16 sampai 30 tahun. Sejalan dengan konsep tersebut, millennials atau kadang juga disebut dengan generasi Y adalah sekelompok orang yang lahir setelah Generasi X, yaitu orang yang lahir awal 1980-an dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an.

Menurut hasil data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Tahun 2017, Indonesia adalah rumah bagi 63,36 juta jiwa pemuda, jumlah tersebut merupakan seperempat dari total penduduk Indonesia. Dari hasil survei tersebut dapat dilihat juga mengenai kualitas pemuda terutama capaian pendidikan dan kesehatannya.

Pada tahun 2017, hampir tidak ada pemuda yang tidak bisa membaca dan menulis. Sekitar satu dari empat pemuda tercatat sedang bersekolah dengan rata-rata lama sekolah pemuda sebesar 10,21 tahun yang menunjukkan bahwa pemuda Indonesia telah menyelesaikan pendidikan sampai kelas 1 SMA atau sederajat. Angka partisipasi sekolah (APS) pada kelompok umur 16-18 tahun, 19-24 tahun dan 25-30 tahun masing-masing sebesar 71,42 persen, 24,77 persen dan 2,93 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pemuda pada kelompok umur 16-18 tahun terlibat secara aktif dalam memanfaatkan fasilitas pendidikan, baik formal maupun nonformal, dimana kelompok usia tersebut merupakan usia sekolah. Melalui APS, kita dapat mengetahui sejauh mana daya serap jenjang pendidikan terhadap penduduk kelompok umur tertentu.

Menurut kualitas kesehatannya, sebesar 18,53 persen pemuda pernah mengalami keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir dengan nilai angka kesakitan pemuda sebesar 8,11 persen. Angka kesakitan (morbiditas) pemuda merupakan persentase pemuda yang terganggu aktivitasnya sehari-hari karena mengalami keluhan kesehatan. Lama sakit sebagian besar pemuda kurang dari seminggu, yaitu 62,31 persen selama 1-3 hari dan 28,97 persen selama 4-7 hari. Lebih dari separuh pemuda telah memiliki jaminan kesehatan, yaitu sebesar 59,37 persen. Jenis jaminan kesehatan yang paling banyak dimiliki oleh pemuda adalah BPJS Kesehatan Penerima Bantuan Iuran (PBI), sebesar 45,71 persen.

Melihat data BPS tersebut dapat dikatakan bahwa Pemuda Indonesia sekarang ini memiliki kualitas yang cukup baik, baik dari segi pendidikan maupun kesehatan. Para pemuda ini, atau yang dikatakan generasi millenials, memiliki karakteristik yang berbeda-beda berdasarkan wilayah dan kondisi sosial-ekonomi. Namun, generasi ini umumnya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital.

Berbicara mengenai teknologi digital, seiring dengan era milenial yang semuanya serba canggih, perkembangan ilmu dan teknologi terutama teknologi informasi turut bertambah cepat. Teknologi informasi melesat jauh melebihi bidang lainnya. Faktor penentunya antara lain globalisasi informasi, yaitu penyebaran akses dan produksi informasi ke seluruh dunia. Informasi sekarang dapat diakses oleh siapa saja dan di mana saja. Saat ini, hampir semua lapisan masyarakat mulai dari orang tua, anak muda, hingga anak SD sudah tidak asing lagi dengan keberadaan internet. Keberadaan internet sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat bahkan cenderung menjadi gaya hidup bagi sebagian orang. Hal tersebut turut menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat simbiosis antara pemuda dan teknologi informasi berupa internet.

Hasil SUSENAS Tahun 2017 menyebutkan bahwa lebih dari separuh pemuda mengakses internet dalam tiga bulan terakhir. Tingkat penetrasi internet pemuda tertinggi ada pada kelompok umur 16-18 tahun, yaitu sebesar 72,86 persen, disusul kelompok umur 19-24 tahun sebesar 67,63 persen, dan kelompok umur 25-30 tahun sebesar 54,17 persen. Telepon seluler menjadi primadona pemuda untuk mengakses internet dan sebesar 83,13 persen pemuda mengakses internet dengan tujuan membuka sosial media.

Persentase yang cukup besar terlihat pada akses sosial media. Media sosial bagi para millenials bisa menjadi pedang bermata dua, tergantung bagaimana mereka menggunakannya. Dengan kemudahan dan kecepatan informasi melalui sosial media, perlu untuk digunakan secara bijak, hindari penyebaran informasi tanpa fakta. Kedekatan millenials dengan dunia maya, serta pengetahuan yang tinggi dalam menggunakan platform dan perangkat mobile, ternyata melahirkan titik lemah bagi para generasi ini. Titik lemah tersebut berdampak buruk terhadap keamanan generasi millennials di dunia maya.

Kemajuan atau kehancuran bangsa dan negara bergantung pada generasi millenials sebagai agen perubahan (agent of change). Melalui momen sumpah pemuda ini didukung dengan  kualitas para generasi millenials dari segi pendidikan maupun kesehatan dan pemahaman akan teknologi yang baik diharapkan bangsa dan negara Indonesia dapat menuju ke arah yang lebih baik. Sehingga kedepannya Indoneisa memiliki sumber daya manusia yang kecerdasannya dapat unggul dibanding negara lain, Indonesia menjadi pusat pendidikan, teknologi, dan peradaban dunia, Indonesia menjadi negara yang maju, Indonesia menjadi negara yang mandiri yang paling berpengaruh di Asia Tenggara, masyarakat Indonesia juga menjunjung tinggi pluralisme, berbudaya, religius, menjunjung tinggi nilai-nilai etika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

you can give your comment here :)